jump to navigation

FileSplit 2.33 – 6 langkah praktis & mudah – Memecah File Berukuran Besar May 17, 2007

Posted by silverrano in Workshop.
add a comment

Workshop kali ini akan mengajak Anda untuk memecah file berukuran besar menjadi beberapa file kecil sehingga mudah untuk di-transfer ke media penyimpanan lainnya.
File yang berukuran besar akan terasa sulit dikirimkan kepada teman melalui e-mail. Hal ini diakibatkan setiap penyedia jasa layanan e-mail (terutama yang gratis) memiliki batasan ukuran tertentu untuk besar file yang dikirimkan maupun yang diterima (file attachment). Oleh karena itu, untuk menyiasatinya, banyak orang menggunakan metode kompresi agar ukuran file mengecil. Namun, bila dengan metode kompresi ukuran file masih terasa terlalu besar, metode untuk memecah file menjadi langkah satu-satunya yang bisa Anda andalkan. Salah satu tool yang dapat melakukannya adalah FileSplit 2.33.

Tool ini sangat mudah digunakan sehingga bagi pemula sekalipun, tidak akan menemukan kesulitan yang berarti. Penampilannya pun juga tidak akan membingungkan karena penempatan fungsi-fungsinya sudah tersusun dengan rapi. Mulai dari proses pengaturan setting sampai proses Split, Merge, dan Compare dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Selain itu, tool juga tidak hanya mampu memecah sebuah file saja, melainkan juga folder. Folder yang memiliki banyak file di dalamnya, dapat Anda satukan dan dipecah menjadi beberapa file melalui tool ini. Sementara untuk proses penggabungannya kembali juga tetap mudah dilakukan, bahkan dengan metode Self-Merging, Anda tidak perlu membuka FileSplit untuk menggabungkan file-file tersebut.

1. Melihat tampilan dan menu Options

Untuk langkah awal, temukan FileSplit ini dalam CHIP-DVD 8/2005 dan instalasikan ke dalam PC Anda. Setelah Anda selesai meng-install FileSplit, buka dan jalankan tool ini dari dalam menu “Start | All programs | FileSplit”. Tool ini memiliki tiga fungsi utama yang dapat membantu Anda dalam membagi file atau folder, yaitu “Split”, “Merge”, dan “Compare”. Selanjutnya, Anda dapat menekan tombol “Options” untuk membuka jendela “Options”. Di menu  ini, Anda dapat mengatur beberapa setting agar tool bekerja sesuai keinginan Anda.

 

Image

 

2. Folder default untuk Split dan Merge

Di bagian “Split file folder”, Anda dapat menentukan folder default untuk menempatkan file hasil split. Namun, apabila Anda ingin menyimpannya pada folder terakhir yang diakses oleh tool, Anda dapat mengaktifkan “Last Split folder”. Hal yang sama juga berlaku untuk proses “Merge”. Di bagian “Merge file folder”, Anda juga bisa menentukan folder default-nya. Selanjutnya, Anda juga harus memastikan pilihan “Make filesplit accessible from Windows Explorer” sudah aktif, untuk memudahkan Anda dalam mengakses file tersebut dari Windows Explorer.

 

Image

 

3. Menentukan sendiri besarnya file hasil split

Masih dalam jendela “Options”. Di bagian kanan, Anda dapat melihat besar ukuran setiap file split yang telah disediakan oleh tool ini. Namun, jika Anda ingin menentukan sendiri besarnya file split, Anda dapat menekan tombol “Add”. Namun, terlebih dahulu tentukan satuan untuk ukuran file. Tool ini menyediakan tiga pilihan, yaitu “Bytes”, “KB (KiloBytes)”, dan “MB (MegaBytes)”. Selanjutnya, Anda dapat menentukan ukuran filenya dengan mengetikkan angkanya di dalam kotak “Size”. Anda juga bisa memberikan keterangan singkat di dalam kotak “Descriptions”.

 

Image

 

4. Split

Setelah Anda selesai mengatur setting di menu “Options”, Anda dapat menggunakan fungsi utama tool ini. Untuk membagi file menjadi beberapa file, klik tab “Split”. Kemudian, klik “Add” untuk memasukkan file atau folder yang akan di-split. Tentukan besar pembagiannya di dalam “Size of Each Part” atau “Number of Part”. Size of Each Part membagi file berdasarkan besarnya file yang sudah Anda tentukan. Sementara Number of Part membagi file berdasarkan jumlah file yang Anda inginkan. Setelah semuanya siap, Anda dapat menekan “Start”.

 

Image

 

5. Merge dan Compare

Bagi Anda yang menerima file-file hasil tool FileSplit, file-file tersebut tidak bisa langsung Anda gunakan begitu saja. Anda harus menyatukan kembali file-file tersebut. Caranya, klik tab “Merge” lalu di bagian “Source File”, klik “Browse” dan pilih satu file yang memiliki ekstension “.FSI”. Tentukan tempat penyimpanannya di bagian “Destination Folder”, bila Anda belum menentukan folder default. Klik “Start” untuk memulai proses penyatuan file. Sementara fungsi “Compare” digunakan untuk menguji kecocokan antara file hasil split dengan file aslinya.

 

Image

 

6. Menyatukan file melalui Self-Merging

Anda juga dapat membuka file hasil split secara otomatis tanpa melalui tool FileSplit ini. Syaratnya, sebelum melakukan proses split, Anda harus memilih option “Create Self-Merging File” di dalam tab “Split”. Saat teman Anda menerima hasil file split yang Anda buat dengan Self merging ini, teman Anda tersebut cukup mengklik ganda file aplikasinya (.EXE) saja, lalu tentukan tempat penyimpanannya, dan klik “OK” untuk menyetujuinya. File secara otomatis akan langsung disatukan dan dapat segera digunakan oleh teman Anda.

 

Image

Recover My Files Data Recovery 3.3 – 6 langkah praktis & mudah – Mengembalikan File yang Hilang May 17, 2007

Posted by silverrano in Workshop.
add a comment

Sangat disayangkan bila secara tidak sengaja,  file-file penting terhapus oleh Anda. Melalui workshop kali ini, CHIP mengajak Anda untuk mencoba mengembalikan file-file tersebut.
Beberapa file penting sering terhapus secara tidak sengaja oleh Anda. Lebih parahnya lagi, dalam penghapusan tersebut, Anda melakukannya tanpa melalui Recycle Bin. Jelas, file tersebut akan terhapus secara permanen. Anda baru merasa menyesal saat menyadari bahwa file yang dihapus sebenarnya file yang masih digunakan.

Anda bisa memanfaatkannya software Recover My Files Data Recovery untuk mengembalikan file-file yang telah terhapus tersebut. Software ini mampu melakukan recovery untuk file-file yang ter-delete, baik dari media hard drive, floppy disks, kamera digital, drive USB, ZIP disk, CompactFlash card, Smart Media, atau Sony Memory Sticks. Jenis-jenis file yang dapat direcover juga bermacam-macam mulai dari format Word, Excel, PowerPoint, Outlook, Outlook Express, Hotmail, Yahoo, Netscape, IncrediMail, database, AutoCAD, Microsoft Money, QuickBooks, Microsoft SQL, MYOB, sampai dengan file MPEG, AVI dan Mp3. Software ini juga dapat mencari file yang telah terhapus dari hard disk yang telah diformat ulang. Sebagai pelengkap, software ini juga memiliki feature CD dan DVD burning.

Pada kesempatan kali ini, CHIP menunjukkan langkah-langkah tercepat untuk mengembalikan file yang hilang tersebut. Anda dapat mengikutinya dalam enam langkah saja.

1. Persiapan awal

Pertama-tama, buka tool ini dari menu “Start | All Programs | Recover My Files”. Sebuah wizard akan menyambut Anda untuk memulai proses pencarian. Apabila Anda tidak ingin menggunakannya, Anda bisa membuang checkmark pada “Show Wizard on start up”. Kini pilih “Manual Set Option” untuk men-setting tool. Pada tab “File Types”, Anda dapat menentukan jenis file yang dicari. Pada tab “Search”, Anda dapat menentukan ukuran file yang hilang. Sementara pada tab “Advanced”, di bagian “Search level”, gunakan pilihan “Sector Level Search” untuk pencarian yang lebih dalam, lalu klik “OK”.

Image

 

2. Filter file yang akan dicari

Dalam melakukan pencarian, Anda dapat membatasi pro-sesnya agar pencarian dapat berjalan cepat melalui feature “Filter”. Kliktombol “Filter” pada menu bar. Dalam jendela filter, Anda dapat mengklasifikasikan pencarian berdasarkan nama file, ukuran, tanggal file, dan kata kunci file. Anda tinggal memberikan checkmark pada pilihan yang ingin Anda gunakan. Contohnya, jika Anda ingin mencari berdasarkan nama file, Anda aktifkan pilihan “By Filename” lalu isilah nama file pada kotak yang berada di sampingnya.  Selanjutnya, klik “OK”.

Image

 

3. Menentukan lokasi pencarian

Langkah ketiga ini mengajak Anda untuk memulai proses pencarian. Pilih “Start Search” untuk kembali ke wizard. Selanjutnya, klik pada pilihan “Complete Search” untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Klik “Next” untuk menuju ke jendela berikutnya. Pada jendela yang muncul, Anda dapat menentukan pilihan lokasi pencarian dengan mengaktifkan salah satu drive atau folder. Sebaiknya cara ini Anda gunakan jika mengetahui letak folder file yang terhapus tersebut. Namun, jika tidak, sebaiknya Anda aktifkan saja semuanya.

Image

 

4. Memulai proses pencarian

Untuk memulai proses pencarian, lanjutkan langkah ketiga tadi dengan mengklik tombol “Next”.  Di sini, Anda dapat menambahkan format file yang akan dicari. Namun ingat, semakin banyak format file yang Anda pilih, semaikn lama pula jalannya proses pencarian. Apabila tidak ada perubahan yang Anda lakukan pada bagian ini, Anda dapat segera memulai proses pencarian file dengan mengklik “Start”. Setelah itu, Anda tinggal menunggu hasilnya. Selanjutnya, Anda dapat melihat hasilnya pada bagian “Search Result”.

Image

 

5. Mengekspor list ke file

Setelah proses selesai, tool akan menampilkan hasilnya di hadapan Anda. Anda bisa melihat keterangan tentang file tersebut pada tab “Preview” dan “Event Log” di bagian bawah. Semua keterangan akan ditampilkan secara rinci, termasuk jenis recovery yang bisa dilakukan. Simpan file tersebut melalui “Save Files” pada menu bar. Setiap hasil pencarian, tool selalu membuat laporannya dan Anda dapat menyimpan laporan tersebut.  Klik “File | Export list to CSV file” untuk mengekspor laporan dalam format “.CSV”. Untuk membuka format ini Anda dapat menggunakan Excel.

Image

 

6. Melakukan proses pembakaran

Apabila file yang di-recovery tergolong besar, tentu saja Anda membutuhkan media penyimpan yang memadai. Untuk kondisi seperti ini, lebih tepat jika Anda menggunakan media CD atau DVD sebagai tempat penyimpanannya. Anda dapat melakukannya melalui pilihan “Recover | Save to CD/DVD”. CD-RW ataupun DVD-RW ROM akan terdeteksi secara otomatis pada bagian “Select Device”.  Selanjutnya, klik “Start Burn” untuk memulai proses pembakaran. Cepat lambatnya proses pembakaran bergantung pada kecepatan CD yang digunakan.

Image

PowerVideoMaker for PowerPoint 2000 1.0 – Video dari PowerPoint May 17, 2007

Posted by silverrano in Workshop.
add a comment

Workshop ini mengajak Anda untuk membuat video dari file Microsoft Power Point yang umum digunakan dalam presentasi.

Penggunaan teknologi informasi dalam bidang bisnis sudah berkembang dengan sangat pesat. Pada era sebelumnya para pelaku bisnis yang ingin mempresentasikan laporan-laporannya masih menggunakan transparansi dengan proyektor, sedangkan pada masa sekarang ini sudah mulai berubah menggunakan komputer ditambah dengan penggunaan proyektor LCD yang berwarna.

Umumnya pembuatan bahan presentasi dilakukan dengan menggunakan program Power Point dari Microsoft yang terkenal sangat mudah dalam hal pengoperasian dan memiliki tools dan efek-efek yang lengkap dan menarik. Meski penggunaan program ini cukup mudah, tetapi tidak semua orang dapat menguasainya. Karena itu apabila Anda ingin memberikan laporan pada relasi yang tidak terlalu menguasai program Power Point tersebut, ada baiknya jika Anda mengubahnya menjadi format yang jauh lebih sederhana, yaitu format video.

Terdapat beberapa program yang dapat mendukung proses pengkonversian file .ppt ke dalam format video. Untuk workshop kali ini, CHIP menggunakan PowerVideoMaker for PowerPoint 2000 1.0.     Cara kerja program ini sebenarnya sama saja dengan proses konversi manual, yaitu dengan merekam slide show yang dijalankan secara virtual oleh program tersebut sehingga proses perekaman menjadi lebih singkat. Kelebihan program ini adalah dapat menyerahkan kontrol sepenuhnya kepada user untuk mengatur jalannya slide show. Selain itu, tampilan program ini sangat sederhana dan mudah dipahami.

1.  Menentukan Input File dan Output Folder

Image

Setelah meng-install PowerVideoMaker for PowerPoint 2000 1.0 ke dalam PC, jalankan software tersebut. Setelah itu, klik “browse” pada bagian “Power Point Source File”. Dengan ini Anda dapat memilih file Power Point yang ingin dikonversi ke dalam file video. Anda hanya dapat mengkonversi satu file dalam setiap prosesnya. Setelah Anda menentukan file Power Point, klik juga “Browse” pada “Output Folder” untuk menentukan penyimpanan hasil konversinya. Ada baiknya Anda buat folder khusus untuk meletakkan file output-nya.

2. Video Resolution dan Frame Rate

Image

Langkah selanjutnya adalah mengatur resolusi video yang ingin Anda buat. Semakin besar resolusi, semakin baik hasilnya. Namun, ukuran filenya akan bertambah besar dan proses konversi menjadi lama. Setelah itu, Anda dapat mengatur “Expected Frame Rate” yang tersedia, mulai dari “5” frame sampai “30” frame. Yang dimaksud dari Frame rate adalah jumlah gambar pembentuk video dalam setiap detiknya. Jadi, misalnya Anda memasukkan “30”, berarti  video akan menjalankan 30 gambar setiap detiknya. Semakin besar angkanya, semakin baik kualitas videonya.

3. Output Video Format

Image

Selanjutnya yang harus Anda lakukan adalah menentukan format output video. Software ini sangat mendukung multiple output format, maksudnya dalam satu proses konversi yang Anda lakukan dapat menghasilkan maksimal 3 format yang berbeda, yaitu WMV, MPEG, dan AVI.  Untuk mengaktifkan format-format tersebut, checkmark pada options “Preferred Video Format”. Apabila Anda memilih option MPEG, Anda perlu memilih jenis format MPEG yang ada, mulai dari kualitas Video, VCD, SVCD, dan DVD.

4. Timing Mode

Image

Di langkah keempat ini Anda dapat menentukan timing mode. Untuk file ppt dengan perkiraan timing yang hampir sama antara slide yang satu dengan slide lainnya dapat menggunakan “Automatic Timing”, sedangkan file ppt dengan perkiraan timing yang beragam dapat menggunakan “Rehearse Timing Now” agar Anda dapat mengatur sendiri jarak setiap slide-nya. “Use Timing if exists” dapat Anda pilih apabila pada file ppt tersebut sudah memiliki timing yang sudah diatur sebelumnya. Pada workshop sebaiknya gunakan “Automatic” agar tidak banyak memakan waktu.

5. Mengatur Options

Image

Langkah kelima adalah melakukan setting utama yang penting dilakukan sebelum memulai proses konversi dari dalam menu “Tool | Options”. Pertama, atur “Conversion settings” yang memiliki beberapa option lagi di dalamnya. Apabila Anda ingin mengkonversi file ppt ke file video per slide, aktifkan option “Reserve movies per slide”. Di bagian “Output AVI as”, Anda juga dapat memilih dua jenis file AVI, yaitu  “AVI (Full Uncompressed)” dan “DV-AVI(NTSC)”. Pilih saja AVI (Full Uncompress)”. Di Bagian “Advance”, tentukan waktu untuk menjalankan satu slide. Setelah selesai klik OK.

6. Proses Konversi

Image

Langkah terakhir adalah proses konversi. Klik tombol “Start” pada jendela utama. Ketika muncul peringatan optional untuk men-disable “display accelerator”, klik “Automatic” agar proses dapat berjalan secara otomatis. Sebelum memulai konversi ada baiknya matikan seluruh program lain. Selanjutnya proses konversi akan berjalan secara otomatis. Apabila proses telah selesai, klik pilihan “View Output File” pada jendela yang muncul, untuk melihat hasilnya. Anda dapat menggunakan Windows Media Player sebagai perangkat pemutarnya.

CaptureWizPro Screen Capture 3.2 – Menangkap Pergerakan Layar May 17, 2007

Posted by silverrano in Workshop.
add a comment

Pada kesempatan ini, CHIP mengajak Anda mengetahui bagaimana caranya menangkap pergerakan layar dengan posisi yang telah Anda tentukan sebelumnya.
Apabila Anda perhatikan, banyak tutorial program komputer yang dibuat dalam bentuk file bergerak (video). Cara ini akan memudahkan pengguna program yang masih dalam tahap belajar, dibandingkan mereka melihat tutorial dalam bentuk tulisan dan gambar saja. Tutorial dalam bentuk format video ini sebenarnya mudah sekali dibuat, karena sistem kerjanya hanya menangkap (merekam) pergerakan layar komputer. Jadi, si pembuat cukup menjalankan program seperti biasanya dalam membuat suatu proyek. Banyak software yang mampu melakukan hal ini, tetapi pada kali ini CHIP menggunakan CaptureWizPro Screen Capture.

CaptureWizPro Screen Capture merupakan software yang dapat mempermudah pekerjaan Anda dalam merekam tampilan layar. Kelebihan software ini adalah mampu menangkap tampilan layar dalam bentuk gambar tetap maupun dalam bentuk gambar bergerak (video). Software ini juga memungkinkan Anda untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari rekaman yang Anda lakukan, sehingga gambar akan terlihat lebih detail. Namun, ada satu hal yang perlu Anda ingat dalam menggunakan software ini, yaitu semakin bagus kualitas yang Anda inginkan, semakin besar pula tempat penyimpanan yang perlu Anda sediakan di dalam hard disk. Agar workshop dapat berjalan dengan lancar, terlebih dahulu Anda siapkan aplikasi yang hendak Anda rekam langkah-langkahnya.

1. Mengatur tempat penyimpanan

 Image

Setelah software ter-install pada PC, jalankan CaptureWizPro dari menu “Start”. Selanjutnya, Anda pilih option “More” pada jendela program yang terbuka untuk melihat fungsi-fungsi yang disediakan di dalamnya. Kini klik “Option” untuk melakukan pengaturan (setting) software. Klik juga tab “Main” untuk mengubah tempat penyimpanan hasil rekaman, jumlah image yang bisa ditampung, dan waktu yang dibutuhkan sebelum proses perekaman dimulai (Delay before capture). Apabila Anda telah selesai melakukan perubahan tersebut, klik “OK” untuk mengakhirinya.
2. Menentukan kompresi video

 Image

Pada bagian “More | Option”, terdapat beberapa tab lainnya yang berisi setting-setting lainnya. Misalnya pada tab “Capture bar”, di sini Anda  dapat mengubah warna jendela program. Kemudian di dalam tab “Video”, Anda juga dapat menentukan waktu “Countdown” untuk menangkap layar. Jumlah frame per detik juga bisa Anda tentukan dalam tab “Video” ini. Untuk tab “Misc”, Anda bisa menentukan besarnya kompresi video. Semakin bagus kualitas rekaman yang ingin Anda dapatkan, semakin besar hasil output-nya. Klik “OK” jika Anda sudah mendapatkan setting yang pas.
3. Pilihan untuk melakukan rekaman

Image

 

Untuk melakukan rekaman, Anda dapat melakukannya dengan beberapa mode, yaitu Area, All screen, 2-point, Frame, Scroll, dan Video. Pada kesempatan ini, CHIP akan membahas untuk rekaman Area, All screen, dan Video. “Area” digunakan untuk daerah tertentu saja yang ingin Anda rekam. Sementara “All screen” digunakan jika ingin menangkap seluruh layar. Hasilnya dapat disimpan dalam format GIF, PNG, BMP, dan JPEG. Untuk perekaman “Video”, Anda harus memilih area yang hendak direkam terlebih dahulu, baru kemudian  memilih “Video”.
4. Mode Area

 Image

 

Apabila Anda memilih “Area”, saat Anda selesai menentukan area capture, menu baru akan muncul di layar PC Anda. Klik “Main” jika Anda ingin langsung melihat hasilnya. Di dalam menu, pilihan “Temp” dapat Anda gunakan jika Anda membutuhkan capture gambar yang banyak. Dengan pilihan “Temp”, gambar akan disimpan dalam folder temporary terlebih dahulu. Anda tinggal memilih area yang hendak dicapture lalu klik “Temp”. Kemudian pilih lagi area lainnya dan tekan “Temp” lagi. Tekan “Main” untuk melihat hasil keseluruhannya.
5. Mode All screen dan Scroll

 Image

 

Apabila Anda melakukan capture dengan menggunakan mode “All screen”, software akan langsung menangkap seluruh isi layar PC Anda. Anda tinggal mengklik “All screen”, secara otomatis tool akan memunculkan seluruh isi layar. Sementara mode “Scroll” digunakan untuk menangkap image yang ukurannya melebihi layar monitor Anda, misalnya halaman website yang sangat panjang. Untuk melakukannya klik “Scroll”, lalu pilih areanya. Apabila tampilan memanjang ke bawah, tekan tanda panah bawah, lalu gulung ke bawah menggunakan tombol scroll mouse.
6. Mode video

 Image

 

Untuk meng-capture seluruh kegiatan yang Anda lakukan dalam layar PC, Anda dapat menggunakan mode “Video”. Klik “Video” lalu tentukan bidang tangkapan di layar PC Anda dan klik “Start” untuk memulai perekaman. Software akan melakukan penghitungan mundur sebelum proses perekaman betul-betul berjalan. Untuk menghentikan proses perekaman, klik “Stop recording”. Sebuah jendela kecil bernama “Save Video File” akan muncul di hadapan Anda. Di jendela ini Anda dapat menentukan tempat penyimpanan dan besar kompresi untuk file video yang dihasilkannya.

Logon Studio 1.0 – Membuat Sendiri Halaman Logon May 17, 2007

Posted by silverrano in Workshop.
add a comment

Workshop ini mengajak Anda membuat sendiri halaman logon Windows  XP sesuai dengan keinginan dan kepribadian Anda.
Kali ini CHIP mencoba mengajak Anda untuk membuat halaman logon sendiri dengan langkah yang sistematis dan mudah untuk diikuti. Untuk membuat halaman logon ini, CHIP menggunakan software Logon Studio 1.0 (www.stardock.com). Software ini digunakan karena menawarkan kemudahan dalam membuat halaman logon. Mulai dari mengganti background, mengubah message, sampai mengganti icon, warna, tulisan, dan letak suatu item dalam halaman logon, dapat dilakukan oleh Logon Studio 1.0 ini.

Untuk membuat halaman logon, pada dasarnya diperlukan suatu rancangan atau desain yang menarik, sesuai dengan selera pembuatnya. Oleh karena itu, yang perlu Anda siapkan adalah gambar dan icon yang menarik. Untuk gambar, software ini hanya mampu mengenali gambar BMP atau Bitmap saja. Apabila Anda memiliki koleksi gambar berformat selain BMP, misalnya JPEG, TIFF, atau RAW,  sebaiknya konversikan terlebih dahulu gambar-gambar tersebut agar dapat dikenali oleh software ini. Untuk mengkonversinya, Anda dapat menggunakan program seperti Photoshop. Anda cukup melakukan “Save As” dengan format BMP tersebut.

Untuk icon, Anda dapat mencari dan men-download-nya terlebih dahulu dari Internet. Banyak sekali alamat website yang menyediakan icon-icon di Internet. Setelah semua gambar dan icon telah tersedia, Anda sudah dapat mengikuti workshop ini. Selamat mencoba.
1. Membuat dan mengedit halaman

Image

 

Setelah software ter-install dalam PC, jalankan software Logon Studio 1.0. Setelah software terbuka, Anda akan ditawarkan dua pilihan, yaitu membuat halaman logon baru atau mengedit halaman logon yang sudah ada. Untuk membuat halaman logon baru, klik “New”, sedangkan untuk mengedit halaman yang sudah ada, klik “Edit”. Untuk workshop ini, Anda pilih “New”untuk membuat halaman logon baru. Pada jendela berikutnya isilah degan informasi yang Anda inginkan, lalu klik “Create”. Informasi ini untuk memberitahukan siapa pembuat dari halaman logon.
2. Mengatur Panel

 Image

 

Langkah selanjutnya adalah melakukan setting panel. Default tampilan logon terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu Top Panel, Center Panel, dan  Bottom Panel. Ketiga bagian tersebut dapat diganti properties-nya seperti warna, gambar, ukuran, dan lain-lain. Caranya dengan mengklik “Panel”, kemudian klik bagian yang ingin Anda ubah, misalnya Top Panel. Lalu lihat boks di bawahnya yang berisi properties-nya. Untuk menggantinya, klik pada pilihan yang ada. Sementara panel pendukung yaitu “Devider” digunakan untuk mengganti gambar pemisah.
3. Mengatur Message

Image

 

Pada bagian ini Anda dapat membuat pesan-pesan yang biasa muncul di halaman logon. Bagian-bagian dari message adalah “Welcome”, “ShutDown”, “Notice”, “Login Notice”, “User Name”, dan “User Status”. Welcome adalah bagian yang biasa muncul saat Windows baru dijalankan. ShutDown biasanya berisi pesan “Turn Off Computer”. Notice berisi “After you log on, you can add or change accounts”. Login Notice berisi pesan “To begin, click your user name”. Untuk membuat pesan tersebut, klik pada salah satu bagian message, dan ketik pesan sesuai keinginan Anda.

4. Mengatur Button dan Pictures

Image

 

Bagian Buttons berisi icon-icon gambar yang terdapat pada halaman logon, seperti icon shutdown, tanda panah kanan, icon tanda tanya, dan icon up. Klik “Button” untuk mengganti icon-nya. Kini pilih bagian yang ingin Anda ubah, misalnya ShutDown. Kemudian, lihat ke boks yang ada di bawahnya (properties). Klik option “picture” lalu klik kotak kecil di sebelah kanannya. Pada jendela yang muncul, klik “browse” untuk memilih icon, pilih gambar yang ingin Anda gunakan. Untuk mengatur bagian Picture yang ada di bawah Buttons, Anda dapat menggunakan cara yang sama.
5. Mengatur User Account

Image

 

Langkah selanjutnya adalah mengatur “User Account”. Di sini Anda dapat mengubah letak, warna, ukuran, frame user account. Untuk menggantinya, klik “User Account” untuk memunculkan “properties”-nya. Kemudian, klik “Account” untuk menentukan posisi “User Account”. Pilih posisi yang Anda sukai dan klik  “OK”. Option “Width”  dapat digunakan untuk mengatur ukuran frame user name Anda. Disarankan untuk tidak mengganti ukuran tersebut, agar keseimbangan halaman tetap baik. Sementara frame picture dapat diganti dengan menggunakan cara yang sama.

6. Save dan Preview

Image

 

Langkah terakhir adalah menyimpan halaman logon yang telah Anda buat. Setelah semua setting halaman logon sudah selesai diatur, simpan dengan mengklik icon disket. Beri nama dan tentukan lokasi penyimpanannya. Setelah selesai, klik icon paling kiri yang berlambang pallete. Icon ini untuk menyimpan sekaligus mengaktifkan halaman logon Anda. Apabila Anda kurang puas dengan desain tersebut, Anda dapat mengganti lagi beberapa item sesuai keinginan. Perlu diingat, tampilan pada software terkadang tidak selalu sama dengan tampilan pada halaman logon.